Allah SWT mencibtakan manusia dari tanah. Sedikit banyaknya sifat-sifat tanah ini akan mempengaruhi manusia. Kalau tanah ini diusahakan makan akan membawa manfaat bagi manusia tapi kalau tidak diusahakan akan menjadi mudhorat buat manusia.
Kalau tanah ini tidak diusahakan maka diatasnya akan tumbuh rumput-rumputan. Kalau diatas tanah itu terdapat rumput-rumputan maka yang datang kepada tanah itu adalah binatang ternak, seperti : kambing, sapi, kerbau, yaitu pemakan rumput. Begitulah keadaan manusia ini kalau tidak diperjuangkan, dia sifatnya akan seperti binatang ternak. Apa sifat binatang ternak ? Sifat binatang ternak itu “Makan” dan “Kawin”. Hanya memikirkan makan saja, sehari-hari hanya memikirkan makan saja. Dan ketika makan itu dia tidak akan memikirkan nasib teman-temannya., tetangganya, kerabatnya, yang penting dia kenyang sendiri. Setelah kenyang sahwat pun akan naik dan kemudian kawin tanpa nikah dan adab.
Surat pertama (Yang awal-awal) dalam Al Qur'an adalah AL BAQARAH (SAPI BETINA) dan diakhiri dengan AN-NAAS (MANUSIA). Maknanya manusia ini akan hina seperti binatang (sapi betina) kalau tidak mengamalkan Al Qur'an. Tapi kalau Al Qur'an kita amalkan dalam kehidupan kita. Sifat binatang yang ada dalam diri kita akan berubah menjadi manusia yang bermanfaat buat yang lain.
Kalau kita bisa berbicara dengan lembu dan bertanya : “Lembu mau kemana…? Mau cari rerumputan”. Hati Manusia pun kalau tidak diusahakan akan sama seperti Lembu. Pikirnya hanya makan dan kawin saja.
Allah SWT berfirman : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). MEREKA ITU SEBAGAI BINATANG TERNAK, BAHKAN MEREKA LEBIH SESAT LAGI. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A'raaf 179)
Didalam sahibul hikayat diceritakan :
Dahulu kala ada seorang alim ulama yang bermaksud pergi dari keramaian manusia (uzlah). Kemudian di tengah jalan ia bertemu dengan Anjing dan Babi yang atas kehendak Allah SWT bisa berkata-kata. si Anjing berkata seraya mengucap syukur : "Alhamdulillahilladzi ja'alani kalban, walaa ja'alani khinzir". "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku Anjing, dan tidak menjadikan aku Babi". Rupanya si Anjing ini bersyukur kepada Allah karena ada salah satu dari bangsanya yang dimuliakan, yang kelak akan masuk surga (yaitu Anjing yang setia menemani Ashhabul Kahfi). Mendengar si Anjing mengucap syukur, si Babi kemudian berucap : "Alhamdulillahilladzi ja'alani khinzir, walaa ja'alani tarkish sholah". "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku Babi, dan tidak menjadikan aku (orang) yang meninggalkan Shalat"
Allah SWT berfirman : atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. MEREKA ITU TIDAK LAIN, HANYALAH SEPERTI BINATANG TERNAK, BAHKAN MEREKA LEBIH SESAT JALANNYA (DARI BINATANG TERNAK ITU). (QS. Al Furqaan 44)
Manusia pun bisa lebih mulia dari pada Malaikat kalau ada agama dalam dirinya dan ada usaha memperbaiki hati.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tiin 4)
Allah SWT berfirman : dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah 34)
Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.
Ketika Isra' Mi'ra penghulunya malaikat (Jibril As) dan penghulunya manusia (Nabi Muhammad SAW) sama mengadakan perjalanan. Setelah sampai di batas yang ditentukan Jibril berkata : Ya Nabi Allah, saya tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Kalaulah Aku melangkah satu langkah saja. Niscaya aku akan binasa. Jadi, perjalanan dilanjutkan Nabi SAW untuk berjumpa dengan Allah (Disini menunjukkan bahwa manusia itu lebih mulia dari pada malaikat). Kemudian terjadi dialog antara Nabi SAW dan Allah SWT :
Nabi SAW berkata : “Attahiyyatul Mubarakaatush sholawaatuth thayyibatu lillaah”. “Ya Allah, segala penghormatan, keberkahan, sholawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah”
Allah SWT pun berfirman : “Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh”. “Wahai Nabi selamat sejahatera semoga tercurah kepada Engkau wahai Nabi Muhammad, semoga juga Rahmat Allah dan Berkah-Nya pun tercurah kepadamu wahai Nabi”
Nabi SAW berkata : “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”. “Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh”.
Nabi SAW ketika itu masih mendokan kita : “Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba-Mu yang sholeh”. Begitulah sayangnya Nabi SAW kepada kita.
Kalau tanah ini tidak diusahakan lagi maka padang rumput itu akan berubah menjadi semak belukar, menjadi padang alang-alang. Dan ketika sudah berubah menjadi padang ilalang maka yang akan datang adalah bukan lagi binatang ternak, tetapi binatang buas seperti singa, harimau, srigala. Kalau binatang ternak tadi sifatnya egois, mementingkan diri sendiri, tetapi dia tidak merusak kepada yang lain. Kalau binatang buas ini untuk kepentingan dirinya, untuk mengenyangkan dirinya, dia binasakan hewan yang lain. Maka begitu juga jika diri manusia ini jika tidak diperjuangkan maka dia akan merosot akhlaqnya seperti akhlaq binatang buas. Untuk kepentingan dirinya dia hancurkan yang lain, dan dia binasakan yang lain. Yang semacam ini sudah kita lihat banyak pada diri manusia saat ini. Bentuknya manusia tetapi sifatnya seperti binatang buas. Pekerjaannya membinasakan, menghancurkan, menyusahkan kehidupan daripada yang lainnya, untuk kepentingan dari pada dirinya.
Kalau tanah ini tidak diusahakan lagi maka maka hutan ini akan menjadi hutan belantara, tumbuh pohon-pohon besar yang rindang-rindang sehingga menyebabkan hutan menjadi lembab dan sinar matahari tidak dapat masuk. Maka di tempat-tempat seperti ini akan hidup binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan sebagainya. Sifat binatang ini lebih buruk daripada sifat binatang lainnya tadi. Seperti ular jika dia mematuk binatang yang lain bukan untuk dimakan tetapi hanya untuk kebanggaan saja. Jika ular itu mematuk kerbau, maka tidak untuk dimakan kerbau itu, tetapi si ular bangga bisa membunuh kerbau yang besar dengan bisanya itu. Kerbau tersebut ditinggalkan begitu saja dan tidak dimakan oleh si ular. Hanya untuk kebanggaan, hanya untuk kesenangan, hanya untuk kepuasan hati, dibinasakannya binatang-binatang yang lain oleh ular. Begitu juga jika manusia tidak diperjuangkan akan sampai ke tahap itu. Manusia macam ini hanya untuk iseng saja demi kesenangan dia semata, mampu membinasakan, merugikan, dan menghancurkan daripada yang lain. Dan orang-orang yang semacam inipun sudah banyak di dunia ini. Inilah yang terjadi jika kita meninggalkan usaha atas diri manusia ini.
SMS : Senang Melihat orang Susah
SMS : Susah Melihat orang Senang
Kalau sifat binatang-binatang ada dalah hati kita.
Untuk maksud inilah Allah SWT hantar Nabi Muhammad SAW keatas dunia ini. Untuk mengusahakan hati-hati manusia yang lebih hina dari binatang menjadi manusia yang lebih mulia dari pada malaikat. Ini akan terjadi jika manusia ini diusahakan dengan usaha atau kerja kenabian. Rasullullah SAW telah berhasil merubah mereka dari mempunyai sifat kehewanan yang wujud dalam diri mereka meningkat menjadi memiliki sifat malaikat.
Setelah Nabi SAW buat kerja secara terus menerus, menjalankan usaha kenabian ini, maka nampaklah perubahan dalam diri manusia. Sehingga manusia-manusia yang jahil tadi berubah, dari yang tadinya mempunyai sifat membinasakan orang lain menjadi mempunyai sifat suka menyelamatkan orang lain.
Kalau kita mau mengambil usaha dakwah ini, maka pertama-tama yang Allah SWT akan perbaiki adalah diri kita kemudian keluarga kita dan umat seluruh alam.
Inilah pentingnya kita keluar 3 hari untuk mengusahakan hati kita dari sifat hewani akan berubah menjadi sifat malaikat.
Sudah banyak contoh dahulunya preman setelah keluar 3 hari menjadi orang yang senantiasa menjaga shalat berjamaah dimesjid. Umar bin khattab dahulunya preman besar di Kota Mekkah telah berubah menjadi seorang khalifah.
Bagi yang belum pernah 3 hari insya Allah niat keluar 3 hari …
Setiap hari kita minta kepada Allah SWT agar ditunjukkan jalan yang lurus (Shirothol Mustaqim) 17 kali dalam shalat yakni jalan orang yang diberikan nikmat kepada mereka.
Banyak orang yang salah paham menyangka bahwa orang yang diberi nikmat atas mereka adalah :
Manusia dari miskin menjadi kaya dikatakan mendapat nikmat
Mahasiswa lulus dalam ujian dengan nilai A dikatakan mendapat nikmat
Orang yang pengangguran dapat kerja dikatakan mendapat nikmat
Orang yang bekerja naik jabatan dikatan mendapat nikmat
Orang yang belum menikah dapat jodoh dikatakan mendapat nikmat
Orang yang punya istri 4 dikatakan mendapat nikmat
Sebenarnya orang yang diberi nikmat atas mereka adalah orang yang Allah SWT maksud dalam Surat An Nisaa' 69 yaitu : Para Nabi, shiddiiqiin, syuhada dan sholihin.
Allah SWT berfirman :
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nisaa' 69)
Jalannya para Nabi adalah dakwah
Allah SWT berfirman :
Katakanlah ((Kekasih Ku Muhammad SAW) : "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf 108)
Jalannya para shiddiiqiin adalah dakwah. Salah satunya Abu Bakar siddiq, beliau juga senantiasa buat dakwah.
Jalannya para syuhada adalah dakwah. Para syuhada sebelum memerangi musuh yang ada disebuah daerah buat dakwah dulu.
Jalannya para sholihin adalah dakwah. Termasuk diantara orang sholihin adalah Imam Hanafi, Maliki, Safi’i dan Hambali mereka semua buat dakwah.
Jadi, jalan yang lurus yang senantiasa kita minta paling minimal 17 kali dalam shalat adalah jalan dakwah. Didalam ayat Yusuf 108 dikatakan sabili (Jalan) ini tunggal maknanya tidak ada lagi jalan yang lain. Selain mengajak kepada Allah (Dakwah). Kalau kita masih mencoba jalan lain untuk sampai kepada Allah SWT, sampai kapan pun kita tidak akan pernah sampai. Selain jalan Dakwah.
Ciri-ciri dakwah cara Nabi SAW adalah :
1. Tidak minta upah
“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Yaasiin 21)
2. Mendatangi umat bukan menunggu
“tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkan”. (QS. Yaasiin 30)
Bahkan di dalam surat Al Mulk dikatakan kepada ahli neraka sebelum masuk ke dalam neraka : Alam Ya’tikum Nadzir apakah belum datang pemberi peringatan kepada kamu ?
"Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" (QS. Al Mulk 8)
Jadi, seorang dai itu datang kepada umat bukan didatangi umat.
Seperti air hujan. Air hujan itu turun dimana-mana tempat, di gunung, di gurun, di desa, di kota, di darat bahkan dilautan pun hujan tetap turun walau pun lautan itu adalah air. Dai pun begitu dakwah di di gunung, di gurun, di desa, di kota, di darat bahkan ditempat yang sudah hidup suasana agama pun harus tetap buat dakwah.
Sebagaimana Ibrahim as. Seolah hendak katakan : Biarlah badan saya terbakar asalkan perinta Allah SWT tidak terbakar, atau biarlah anak saya terpotong asalkan agama tidak terpotong.
Kitapun harus teriak : Biarlah anak istri kami bersedih karena ditinggal kerja dakwah asalkan Allah dan Rasul-Nya senang.
Jalan Yang lurus itu adalah jalan dakwah dan siapa saja berkewajiban buat dakwah
Seorang mewariskan hartanya kepada 3 anaknya. Salah seorang anaknya dipenjara, yang satu polisi dan yang satu lagi ulama. Apakah anak yang dipenjara mendapat warisan yang sama? Sebelum anaknya murtad dan membunuh ayahnya maka anak dipenjara tetap dapat warisan.
Kalau ada orang yang berani mengatakan bahwa anak yang dipenjara tak berhak akan warisan maka berarti ia telah merampas hak anaknya itu.
Begitu pula hari ini Umat Islam diwariskan kerja menyebarkan agama keseluruh alam, Walaupun ia seorang pencuri, penzinah dsb.
Kalau ada yang berani mengatakan : Hai Pelacur kamu tak boleh berdakwah, Hai penzinah, koruptor kamu tak boleh Dakwah, maka ini berarti ia telah merampas hak orang itu.
Harusnya kita katakan kepada mereka : Hai Pelacur ! Hai Koruptor ! kalian semua wajib berdakwah nanti Allah SWT akan perbaiki kehidupan kamu sebagai mana Firman Allah SWT
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. (QS. Al Ahzab 70-71)
Kita sudah tahu jalan yang lurus itu adalah dakwah...
Apakah kita tidak mau juga buat dakwah...?
Apakah kita tidak mau juga meluangkan waktu 3 hari untuk belajar usaha dakwah...?
Untuk menghitung nikmat Allah saja kita tidak bisa. Apalagi membalaskan tentu tidak bisa. Sekiranya lautan menjadi tinta dan ranting-ranting menjadi pena tidak akan sanggup untuk menuliskan nikmat Allah SWT meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula. Tidak akan bisa.
Sudah berapa galon air yang kita minum ...?
Sudah berapa goni beras yang kita makan ...?
Sudah berapa ton ikan yang kita makan ...?
Sudah berapa juta ekor ayam yang kita makan ...?
Sudah berapa milyar uang yang kita habiskan ...?
Untuk membuat satu tetes air saja manusia tidak akan mampu
Untuk membuat satu butir beras saja manusia tidak akan mampu
Untuk membuat siripnya ikan saja manusia tidak akan mampu
Untuk membuat taiknya ayam saja manusia tidak akan mampu
Manusia tidak akan mampu untuk menghitungnya, apalagi membalasnya. Allah SWT perintahkan kita bersyukur atas nikmat yang diberikannya.
Banyak sekarang manusia bersyukur kalau dapat jabatan, kalau dapat uang, kalau dapat jodoh, kalau dapat pekerjaan, kalau dapat nilai yang bagus. Tetapi jarang sekali manusia bersyukur di beri nikmat iman dan islam.
Kapankah kita merasa nikmatnya Makan ...? Ketika lapar
Kapankah kita merasa nikmatnya minum ...? Ketika haus
Kapankah kita merasa nikmatnya tidur ...? Ketika ngantuk
Kapankah kita merasa nikmatnya persahabatan ...? Ketika Berpisah dalam Keharuan yang sangat
Kapankah kita merasa nikmatnya Hidup ...? Ketika dalam Kekurangan, ketiadaan
Kapankah kita merasa nikmatnya cinta ...? Ketika berpisah dengan orang yang kita cintai
“Ketika keluar 4 bulan bukan main rindunya kepada kekasih hati tercinta. Waktu dirumah tidak pernah ada waktu untuk berbicara dengan serius antara suami dan istri tetapi waktu keluar bawaannya mau nelpon saja. 1 jam tidak terasa padahal waktu taklim. Kalau waktu keluar bukan main mesranya, tetapi waktu dirumah mengucapkan kata sayang pun tidak pernah.”
Kapankah kita merasa nikmatnya Iman ...? ..........
Bilal ra telah ditanya kapan engkau merasa nikmat iman ...? Ketika aku ditimpa batu yang besar, di padang pasir, di terik matahari, aku dipukuli dan aku berkata : “Ahad, ahad, ahad”
Umar bin Khaththab adalah seorang presiden. Khalifah pada saat itu memiliki pakaian dengan 13 tambalan. Pernah suatu ketika Umar menggati bajunya karena disarankan seseorang. Umar pulang kerumah dengan baju baru, istrinya berkata : “Abang lebih tampan dengan baju yang bertambal 13”
Justru bukan dalam kemewahan manusia tak akan bisa menikmati sebuah keberadaan.
Orang yang kaya sudah tidak merasa enak lagi makan ayam dan daging karena sudah setiap hari dia makan. Orang yang miskin akan merasa enak kalau makan ayam dan daging, bahkan ketika makan akan nambah dan nambah karena orang miskin jarang makan ayam sama daging.
Orang kaya akan terasa sulit tidur karena banyak pikiran. Satu orang tukang becak bisa tertidur di didalam becaknya dibawah sinar matahari yang terik.
Nabi SAW rela dicaci, dimaki dan disakiti serta berkorban habis-habisan untuk agama untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Khadijah rela mengorbankan semua hartanya untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Abu Bakar rela mengorbankan semua hartanya untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Para sahabat rela kepala berpisah dari badan untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Para sahabiyah rela suaminya syahid dijalan Allah untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Anak-anak para sahabat rela berpisah dari ayahnya untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Dahulu Sahabat mengusahakan iman dengan penderitaan di bawah penderitaan
Tapi saat ini kita mau bila melaksanakan dengan Senang di atas Kesenangan
Kita setiap hari bisa makan enak padahal Nabi SAW tidak pernah makan yang enak-enak
Kita setiap hari bisa tidur nyenyak padahal Nabi SAW tidak pernah tidur dengan nyenyak
Kita shalat dimesjid diruangan yang dipenuhi dengan AC
Kita punya baju bukan bertambal 13 tetapi 13 kali ganti baju setiap hari.
Kita punya suami yang setiap pagi bisa menemani sarapan pagi dengan segelas kopi
Kita punya istri yang bisa di peluk setiap malam dengan kehangatan
Kita punya anak yang setiap hari bisa bercanda ria dengan kesenangan
Lihat ... Lihat ... Lihat ... Lihat ... Lihat ...
Lihat ... kehidupan para sahabat yang suaminya jarang dirumah, yang setiap keluar bawa pedang yang tidak pasti kapan pulang.
Yang suaminya tidak sempat mandi junub untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Yang suaminya syahid dijalan Allah untuk mendapatkan nikmatnya iman.
Berapa banyak hari ini suami yang mati dalam keadaan junub karena tidak bisa mandi junub.
Berapa banyak hari ini suami yang korupsi karena istrinya ingin mobil yang baru.
Berapa banyak hari ini suami mati dipangkuan istrinya tetapi tidak bawa iman.
Kapan kita Merasa Nikmatnya Iman ...?
Silahkan dijawab didalam hati ...
Apa yang sudak kita korbankan untuk agama ...?
Sehingga iman akan terasa nikmat
Shalat akan terasa nikmat
Zikir akan terasa nikmat
Puasa akan terasa nikmat
Ibadah akan terasa nikmat kalau kita sudah merasa nikmatnya iman
Nikmat iman akan didapat kalau kita ada pengorbanan untuk agama.
13 jam kita puasa menahan haus dan dahaga, menahan nafsu dan amarah. Tetapi setelah berbuka puasa 5 menit saja minum es dan beberapa butir kurma. Bukan main nikmatnya. Hilanglah rasa lapar yang 13 jam.
Nikmat minuman dan makanan akan terasa ketika haus dan lapar
Capek-capeklah kita keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan. Berpisah dengan anak dan istri. Berpisah dengan sahabat dan pekerjaan. Tetapi 1 detik saja masuk surga maka hilanglah semua rasa capek selama ini memperjuangkan agama Allah SWT.
Nikmat iman akan kita dapatkan kalau kita meluangkan waktu untuk agama Allah
Bagi yang belum pernah keluar 3 hari secepatnya keluar 3 hari
Bagi yang belum pernah keluar 40 hari secepatnya keluar 40 hari
Bagi yang belum pernah keluar 4 bulan secepatnya keluar 4 bulan
Bagi yang belum pernah keluar IPB secepatnya keluar IPB
Bagi yang belum pernah keluar Negeri jauh secepatnya keluar Negeri Jauh
Bagi yang belum pernah keluar Masturoh secepatnya keluar Masturoh
Ketika kita keluar jalan Allah maka nikmat iman itu akan terasa
Syech Basyir rah.a Amir dakwah di Pakistan katakan :
Agama turun di Quraisy karena surat Al Quraisy menceritakan bagaimana kehebatan orang Quraisy yang biasa tinggalkan anak istri untuk berdagang yaitu dimusim panas pergi ke Syam dan di musim dingin pergi ke Yaman.
Kebiasaan inilah yang biasa tinggalkan keluarga menjadikan Allah SWT pilih mereka bawa agama ke seluruh alam. Bayangkan jika agama diturunkan ditempat orang yang biasa tinggalkan anak istri. Apa jadinya ? Maka agama akan mati dan mungkin tersebar.
Jadi tuan tuan banyak orang rela bertahun tahun berpisah dengan anak istri untuk kerja dunia yang tak ada janji kejayaan di dalamnya. Sementara jika melihat orang pergi kerja untuk sebarkan agama orang islam bahkan yang berilmupun ribut mengomentarinya.
Lihatlah berapa banyak perzinahan terjadi, anak tak terurus, agama mereka hancur, bahkan permasalahan sosial yang disebabkan suami pergi berbulan bulan, bahkan bertahun tahun untuk keduniaan tapi banyak orang tutup mata, bahkan justru dipuji puji.
Syech Abdul Wahab katakan : kehidupan tanpa agama seperti pasar dimana orang dihargai karena uangnya bukan karena amal kebaikannya.
Padahal kerja dunia adalah kerja sekali pakai, gajian selesai, beli barang, dimakan, dipakai, kalau mati sudah.!! Habis semua
Sedangkan kerja agama dapat kita nikmati sampai di kubur, di mahsyar, di siroth bahkan selama lamanya di dalam syurga.
Maulana Ilyas rah.a ditanya oleh anaknya yaitu Maulana Yusuf : “Ya ayahanda !! kenapa ayah buat jamaah lagi padahal sudah banyak fiqroh-fiqroh bermacam jamaah dalam islam ?”
Syech Ilyas rah.a katakan : “Wahai anakku !! hari ini amalan Rasululloh SAW telah banyak dikerjakan oleh ummat islam wujud di mana mana dalam jamaah, tetapi maksud hidup Rasululloh SAW telah hilang dari ummat sehingga amalan ummat tidak mencapai hakekat amal.”
Mereka sholat yang seharusnya mampu mencegah fasya’ dan mungkar tak dapat wujud, puasa yang seharusnya menghasilkan ketakwaan tak berhasil, zakat yang seharusnya menghilangkan cinta dunia, malahan menjadikan orang semakin cinta dunia. Haji yang seharusnya mendatangkan kecintaan kepada Allah SWT justru orang semakin mencintai makhluq.
Maksud ittiba’ Nabi SAW adalah mengikuti kepada dua perkara :
1. Amalan Rasulullah SAW
2. Maksud hidup Rasulullah SAW
Orang hari ini paham tanggung jawab sebagai seorang ayah, suami, pegawai dll. Ketika isterinya sakit misalnya maka dia kalahkan semua pekerjaan, kesenangan dll untuk merawat istrinya dan carikan obat, dokter dll.
Karena ia paham tanggung jawabnya. Jadi untuk kepentingan istri, rela tinggalkan apapun karena merasa sebagai suami.
Orang yang buka toko untuk menghidupi keluarga paham tanggung jawab terhadap tokonya, maka tiap hari dibuka dan di azam untuk buka toko bukan untuk masa 40 hari, 4 bulan saja tetapi untuk masa selama hidupnya karena apa? Dia paham tanggung jawabnya.
Seorang kuli pengangkut barang ketika dapat tanggung jawab mengangkat barang orang yang membayarnya tak akan mungkin mau memindahkan bebannya kepada orang lain, karena ia paham kalau tak angkat barang walaupun berat maka tak akan dapat uang, dia paham tanggung jawabnya.
Seorang yang mengatakan anakku, istriku, rumahku maka orang tersebut langsung paham Tanggung jawabnya dengan apapun yang dikaitkan dengan dirinya. Sayangnya ummat hari ini tak paham tanggung jawabnya. Walaupun telah mengatakan agamku, Nabiku dll.
Tanggung jawab yang besar dari ummat adalah ini adalah mengingatkan tanggung jawabnya semua orang Islam atas kerja Nabi dan menjadikan maksud hidup Nabi sebagai maksud hidup ummat.
Sejak Al Muzzammil, dan Al Muddattsir turun maka Nabi SAW telah lipat bister/ tempat tidurnya dan berkata kepada Khodijah rha : “Laa Roihata ba”dal yaum”
Nabi paham yanggung jawabnya, maksud hidupnya adalah dakwah. Biarlah diri dicaci, dihina, biarlah anak istri menderita, kelaparan, tak berpakaian tetapi kerja dakwah tak boleh berhenti.
Karja petani, perdagangan, perkantoran dll boleh berhenti, tetapi kerja dakwah tak boleh berhenti. Bahkan badan boleh terbakar, anak boleh terpotong, asalkan agama tak boleh terpotong sedikitpun.
Lihat pengorbanan Ibrahim as. Inilah arti tanggung jawab dia akan buat kerja Nabi SAW sebagai kerja selamanya, bukan 3 hari, 40 hari atau 4 bulan.
Dan dia akan buat kerja Nabi dengan mengalahkan kerja-kerja lainnya. Dia kedepankan kerja Nabi SAW dan dia belakangkan kerja selainnya.
SK surat keputusan yang mengangkat ummat ini menjadi Da’i telah turun dalam surat Yusuf 108. “Katakanlah kekasihku Muhammad, inilah jalanku (Manhajku/ jalanku satu-satunya) yakni mendakwahkan manusia kepada Allah SWT atas bashiroh, kerja ini adalah kerjaku dan kerja orang yang mengikuti aku.”
Inilah jalan yang setiap hari diminta oleh orang yang sholat 17 kali, tetapi sayangnya ummat lalai dari perkara ini.
Kantor atau jawatan yang sudah mengangkat seseorang jadi pegawai tetapi ia tak kerjakan juga tugas setelah diangkat dengan SK surat keputusan, tentulah kantor itu akan gantikan dia dengan orang lain. Begitulah ummat hari ini tak mau kerjakan tugas dan tanggung jawabnya padahal telah diangkat jadi Da’i maka Allah SWT akan pilih orang lain ambil kerja ini.
Seekor sapi tak lagi menghasilkan susu maka oleh pemiliknya akan diserahkan kepada tukang jagal untuk disembelih. Maka orang islam yang takada gunanya lagi untuk agama maka akan diserahkan kepada orang kafir untuk disembelih, dihina, direndahkan, diusir dari negerinya.
Paulus dan Barnabas memberi nama "Kristen" terhadap agama yang mereka bentuk, yaitu sekitar tahun 42 M.
Agama kristen muncul sekitar tahun 42 M.
Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.' (Kis 11:26)
Pada tahun 325 M kaisar kontantin mengadakan konsili Nesea di Nesea. Yang memutuskan bahwa Yesus adalah Tuhan yang sebelumnya Yesus tidak pernah dinyatakan sebagai Tuhan. Mulai dari tahun 325 M inilah Yesus dianggap sebagai Tuhan.
360 patung mengelilingi Ka’bah. Didepan Ka’bah pun manusia berzina. Tempat yang paling mulia diatas permukaan bumi ini pun akan menjadi tempat maksiat kalau usaha dakwah ditinggalkan.
Jarak antara Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW sekitar 600 tahun. Selama 600 tahun dakwah tidak ada sama sekali. Apa yang terjadi…? Terjadi 3 perkara besar yaitu :
1. Munculnya agama baru “Kristen”
2. Nabi Isa AS diangkat menjadi Tuhan
3. Datangnya zaman jahiliyah (Zaman yang paling rusak dipermukaan bumi ini)
Solusi dari masalah ini, Nabi Muhammad SAW telah buat Dakwah di Kota Mekkah dan Madinah sehingga zaman jahiliyah menjadi zaman Khairul kurun. Dari zaman yang paling buruk menjadi zaman yang paling baik. Asbab dihidupkannya kembali usaha dakwah.
Menjelang akhir hayatnya Rasulullah SAW mengirim satu jema'ah besar keluar kota Madinah dipimpin seorang panglima yang masih sangat muda, anak dari seorang bekas budak hamba sahaya yang kemudian menjadi anak angkat Beliau, Usamah bin Zaid r.ahuma. Belum sampai ke tujuan Jema'ah tersebut mendapat berita tentang wafatnya Baginda Rasulullah SAW. Akhirnya diputuskan jema'ah tersebut kembali ke Madinah.
Usaha dakwah terhenti sebentar (dalam satu riwayat 7 hari), jema'ah yang dipimpin Usamah ra. belum diberangkatkan. Apa yang terjadi…? Terjadi 3 perkara besar yaitu :
1. Tentara Romawi dan sekutu-sekutunya mau menyerang Madinah
2. Banyak orang kembali murtad dan sebagian tidak mau lagi membayar zakat.
3. Munculnya Nabi palsu, Musailamah al Kahzab.
Tentara Romawi dan sekutu-sekutunya mengirim suatu kekuatan besar untuk membumi hanguskan Madinah dan seluruh orang Islam. Abu Bakar ra. memutuskan untuk segera mengirim kembali jema'ah yang sempat tertunda untuk menghadapi tentara kafir dengan tetap dipimpin oleh Usamah ra. Ada sebagian sahabat yang merasa keberatan dan ingin agar Usamah ra. dapat diganti dengan sahabat yang lebih berpengalaman tapi Abu Bakar ra. berkata,
"Belum lama jasad Rasulullah SAW dikebumikan, sekarang kalian hendak mengubah satu Sunnahnya"!
Jema'ah tersebut tetap dipimpin oleh Usamah bin Zaid r.anhuma. Semua sahabat yang tidak ada uzur diperintahkan untuk menyertai jema'ah tersebut. Amirul Mukminin, Abu Bakar ra. meminta kesediaan Usamah ra. untuk membolehkan beberapa sahabat tetap tinggal di Madinah untuk tugas-tugas lain. Khalid bin Walid ra. ditugaskan memimpin 500 orang untuk menghancurkan Musailamah al Kahzab, Umar ra. ditugaskan memimpin 50 orang untuk menhadapi mereka yang tidak mau membayar zakat. Sehingga tinggallah di kota Madinah orang-orang tua dan Abu Bakar ra. sebagai Amirul Maukminin untuk mengendalikan keadaan di Madinah. Seorang sahabat lagi bertanya kepada Abu Bakar ra. berkata "Wahai Amirul mukminin kalau semua kita menyertai jema'ah ini bagaimana keadaan kota Madinah yang di dalamnya ada Ummahatul mukminiin, istri-istri Rasulullah SAW". Abu Bakar ra berkata,
"Aku lebih rela istri-istri nabi diserang musuh dan bangkainya dicabik-cabik serigala daripada agama dan usaha agama ini terhenti".
Akhirnya Jema'ah tersebut diberangkatkan dengan dilepas sendiri oleh Amirul Mukminin Abu Bakar ra. Di Madinah, semua sahabat yang uzur diperintahkan untuk membuat 'amalan masjid. Mengisinya dengan Da'wah menjumpai orang-orang di Madinah yang keyakinannya goyah atau telah keluar dari Islam untuk dapat kembali kepada Islam. Mereka kemudian diajak ke Masjid Nabawi untuk duduk di dalam majelis dan dibangkitkan semangatnya kembali serta memperbanyak 'amal ibadah dan berdo'a memohon bantuan Allah SWT. Sebagaian lagi diberi tugas untuk melayani tamu-tamu yang datang dan menyiapkan segala keperluan jema'ah masjid.
Dari usaha dan kerja di Masjid Nabawi tersebut alim ulama menerangkan terbentuk beberapa jema'ah da'wah yang dikirim ke kawasan yang berdekatan dengan Madinah, menjumpai setiap orang yang berada di kabilah terdekat untuk kembali kepada Islam dan Iman. Sehingga di dalam suatu riwayat selama tiga hari-tiga malam di kota Madinah tidak terdengar suara adzan.
Kembali kepada Jema'ah yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid ra. Selama perjalanan untuk menghadapi tentara kafir mereka telah berhenti beberapa kali. Alim ulama menerangkan bahwa Usamah ra. telah memerintahkan jema'ah tersebut untuk berhenti dan membongkar segala perlengkapan dan memasang tenda dan berbagai keperluan lainnya. Ketika semua telah selesai, ia, Usamah ra. memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Semua sahabat r.ahum tha'at. Mereka segera membongkar tenda mengumpulkan segala perbekalan dan sebagainya. Di tempat yang lain Usamah ra. memberikan perintah yang sama sehingga beberapa kali jema'ah tersebut membongkar memasang dan membongkar lagi perbekalan serta tenda mereka.
Walaupun pada zhahirnya terlihat seperti tidak teratur dan tidak terorganisir akan tetapi dengan ketha'atan kepada Amir dan bergeraknya mereka tersebut fii sabilillaah. Allah SWT telah tanamkan kembali di dalam hati musuh Islam ketakutan terhadap ummat Islam. Tentara Romawi dan sekutunya menjumpai bekas-bekas perkemahan dan barang-barang perbekalan sahabat r.ahum dapat menghitung berapa kekuatan pasukan Muslimin. Di tempat yang lain mereka menjumpai tanda-tanda bahwa di tempat itu juga sepasukan yang besar pernah berkemah. Sehingga akhirnya tentara musuh Islam tersebut berkesimpulan kalau dengan jumlah sahabat r.ahum sedemikian besar yang berada di luar Madinah maka pasti jumlah yang lebih besar lagi ada di dalam Madinah. Dan mereka memutuskan untuk mundur karena mereka yakin mereka tidak akan menang menghadapi orang Islam. Begitu juga Musailamah al Kahzab dan pengikutnya beserta benteng di Yamamah yang telah didirikannya akhirnya dapat di hancurkan.
Tiga perkara besar yang terjadi akibat usaha dakwah terhenti sebentar akhirnya dapat dikembalikan. Orang-orang kembali kepada Islam dan mau membayar zakat, Allah SWT tanamkan kembali ketakutan di dalam hati musuh Islam dan Allah SWT hancurkan nabi palsu. Jadi, solusi dari permasalahan ini hanya usaha dakwah dihidupkan kembali.
15 abad nabi SAW telah berpisah dengan kita. Selama itu pula usaha dakwah telah terhenti (Dalam pandangan secara global). Walaupun masih ada sekelompok kecil ulama dari generasi ke generasi yang masih buat usaha dakwah.
15 abad usaha dakwah telah ditinggalkan. Apa yang terjadi…?
1. Maksiat meraja lela dimana-mana
2. Manusia sudah enggan membayar zakat
3. Munculnya agama baru
4. Munculnya Nabi palsu
5. Ummat islam dihinakan
6. Bencana alam
7. Pembunuhan dan perzinaan
8. Sejuta permasalahan ummat yang kita hadapi sekarang
9. Kejahatan-kejahatan ummat terdahulu dikumpulkan kepada ummat akhir zaman.
Solusi dari semua permasalahan ummat akhir zaman akan selesai. Sebagaimana jalan yang ditempuh oleh Nabi SAW dan para sahabat. Yaitu : “MENGHIDUPKAN KEMBALI USAHA DAKWAH”
Imam Malik rah.a berkata :
“Tidak ada cara yang terbaik dalam memperbaiki Ummat saat ini selain cara yang digunakan Rasullullah SAW pada kurun waktu awal Islam”
Insya Allah
Jadikan dakwah maksud hidup kita
3 hari, 40 hari dan 4 bulan
Mengasingkan diri keluar dijalan Allah selama tiga hari dengan membersihkan diri dari fakir dunia. Meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah, beribadah, belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didalam hati sanubari seseorang itu.
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al An'aam 160)
Inilah dasar Keluar 3 hari Dijalan Allah, Pahalanya sama dengan 30 hari. Apabila dalam setahun penuh, pada setiap bulannya keluar dijalan Allah tiga hari saja, maka dalam setahun akan dihitung selamanya keluar di jalan Allah, kita sempurnakan takaza didalam negeri sendiri dan senantiasa mengerjakan terus menerus dengan istiqamah. (Sawanikh Hadhratji, hal 772)
Pada ayat ini diterangkan dengan jelas bahwa barang siapa berbuat amal baik, maka Allah akan memberikan pahala balasannya di hari akhirat dengan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan hanya dibalas setimpal dengan kejahatannya, sebab Allah tidak akan menganiaya sedikit pun atau merugikan mereka. Yang dimaksud dengan orang yang beramal baik di sini ialah orang-orang mukmin karena amal baik orang kafir sebelum masuk Islam tidak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti yang diterangkan di dalam firman Allah:
Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An'am 88)
Dan yang dimaksud dengan balasan sepuluh kali lipat di sini belum termasuk apa yang dijanjikan Allah dengan balasan yang jauh lebih banyak dan berlipat ganda dari itu lagi kepada orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah sampai 700 kali seperti disebutkan dalam firman Allah atau hadis qudsi:
Artinya:
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasan semuanya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. (QS. At Taghabun 17)
Di dalam hadis Nabi Muhammad saw. banyak dijumpai tentang balasan amal baik dan amal jahat sehingga diterangkan juga pahala balasan terhadap orang-orang yang belum mengerjakannya hanya sekadar niat dan putusan atau ketetapan hatinya. Hal ini tersebut dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah yang menceritakan dengan terjemahannya sebagai berikut:
Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman kepada malaikatnya, "Apabila hamba-Ku hendak mengerjakan sesuatu pekerjaan jahat, janganlah dituliskan (jangan dicatat) sebagai suatu kesalahan sebelum dikerjakannya. Dan apabila dikerjakannya, catatlah baginya satu kesalahan (kejahatan). Dan jika ditinggalkannya (tidak jadi diperbuatnya) karena Aku (karena Allah), maka tulislah baginya satu kebaikan. Dan apabila ia hendak mengerjakan kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka tulislah baginya satu pahala kebaikan. Dan apabila dikerjakannya, maka tulislah sampai tujuh ratus kali lipat pahala kebaikan baginya."
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: Seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. Al Baqarah 261)
Dalam ayat ini Allah swt. menggambarkan keberuntungan orang yang suka membelanjakan atau menyumbangkan harta bendanya di jalan Allah, yaitu untuk mencapai keridaan-Nya.
Hubungan antara infak dan hari akhirat adalah erat sekali karena sebagaimana diketahui, seseorang tak akan mendapat pertolongan apa pun dan dari siapa pun pada hari akhirat itu, kecuali dari hasil amalnya sendiri selagi ia masih di dunia, antara lain amalnya yang berupa infak di jalan Allah.
Betapa mujurnya orang yang suka menafkahkan hartanya di jalan Allah oleh ayat ini dilukiskan sebagai berikut: bahwa orang tersebut adalah seperti seorang yang menyemaikan sebutir benih di tanah yang subur. Benih yang sebutir itu menumbuhkan sebatang pohon dan pohon itu bercabang tujuh, setiap cabang menghasilkan setangkai buah dan setiap tangkai berisi seratus biji sehingga benih yang sebutir itu memberikan hasil sebanyak 700 butir. Ini berarti tujuh ratus kali lipat. Bayangkanlah betapa banyak hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir.
Penggambaran seperti yang terdapat dalam ayat ini adalah lebih jitu daripada misalnya dikatakan secara langsung bahwa benih yang sebutir akan menghasilkan 700 buah. Sebab penggambaran yang terdapat dalam ayat tadi memberikan kesan bahwa amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seseorang senantiasa berkembang dan ditumbuhkan oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga menjadi keuntungan yang berlipat ganda bagi orang yang melakukannnya seperti memperkembangkan tanaman yang ditanam oleh seseorang pada tanah yang subur untuk keuntungan penanamnya.
Pengungkapan tentang perkembangan yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan seperti yang digambarkan dalam ayat ini telah membangkitkan minat para ahli tumbuh-tumbuhan untuk mengadakan penelitian dalam masalah itu. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa sebutir benih yang ditanam pada tanah yang baik dan menumbuhkan sebatang pohon, pada umumnya menghasilkan lebih dari setangkai buah bahkan ada yang berjumlah lebih dari lima puluh tangkai. Jadi tidak hanya setangkai saja. Dan setiap tangkai berisi lebih dari satu biji bahkan kadang-kadang lebih dari enam puluh biji. Dengan demikian teranglah bahwa penggambaran yang diberikan ayat tadi bahwa sebutir benih dilipatgandakan hasilnya sampai menjadi tujuh ratus butir bukanlah suatu penggambaran yang berlebih-lebihan melainkan adalah wajar dan sesuai dengan kenyataan.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa semakin banyak penyeledikan-penyelidikkan ilmiah dilakukan orang dan semakin tinggi pengetahuan dan tekhnologi umat manusia semakin tersingkaplah kebenaran apa-apa yang terkandung dalam kitab suci Alquran baik mengenai benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan, ruang angkasa dan sebagainya.
Banyak riwayat yang berasal dari Rasulullah saw. yang menggambarkan keberuntungan orang-orang yang menafkahkan harta-bendanya di jalan Allah; yaitu untuk memperoleh keridaan-Nya dan untuk menjunjung tinggi agama-Nya. Di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Nasai dan Hakim dari Ibnu Masud bahwa ia berkata, "Seorang lelaki telah datang membawa seekor unta yang bertali di hidungnya lalu orang tersebut berkata: "Unta ini saya nafkahkan jalan Allah." Maka Rasulullah bersabda: "Dengan nafkah ini, anda akan memperoleh di akhirat kelak tujuh ratus ekor unta yang juga bertali di hidungnya."
Pada akhir ayat ini Allah swt. menyebutkan dua sifat di antara sifat-sifat-Nya, yaitu Maha Luas dan Maha Mengetahui. Maksudnya, Allah Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-Nya, karunia-Nya tak terhitung jumlahnya. Dan Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang patut diberi pahala yang berlipat-ganda, yaitu mereka yang suka menafkahkan harta bendanya untuk kepentingan umum, untuk menegakkan kebenaran, dan untuk kepentingan pendidikan bangsa dan agama, serta keutamaan-keutamaan yang akan membawa bangsa itu kepada kebahagiaan di dunia dan di akhir. Apabila nafkah-nafkah semacam itu telah menampakkan hasilnya untuk kekuatan agama dan kebahagiaan bangsa, maka orang-orang yang bernafkah itu pun akan dapat pula menikmatinya.
Ajaran-ajaran Islam mengenai infak sangat tinggi nilainya. Selain mengikis sifat-sifat yang tidak baik seperti kikir dan mementingkan diri sendiri, infak ini juga menimbulkan kesadaran sosial yang mendalam, bahwa masing-masing orang senantiasa saling membutuhkan, dan seseorang tak akan dapat hidup seorang diri. Sebab itu harus ada sifat gotong-royong, dan saling memberi, sehingga jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin dapat ditiadakan, persaudaraan dipupuk dengan hubungan yang lebih akrab.
Menafkahkan harta di jalan Allah, baik yang wajib seperti zakat maupun yang sunat seperti sedekah, yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat, untuk memberantas penyakit, kemiskinan dan kebodohan, untuk penyiaran agama Islam dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah sangat dituntut oleh agama, dan sangat dianjurkan oleh syariat. Sebab itu, terdapat banyak sekali ayat-ayat Alquran yang membicarakan masalah ini, serta memberikan dorongan yang kuat dan memberikan perumpamaan yang menggambarkan bagaimana beruntungnya orang-orang yang suka berinfak dan betapa malangnya orang-orang yang tidak mau menafkahkan hartanya.
Rasulullah saw berwasiat kepada para sahabat, " Wahai sahabatku, apabila saat ini kalian mengurangi waktu kalian untuk agama Allah sepersepuluh saja, niscaya nushratullah (pertolongan Allah) tidak akan turun, kalian harus mengamalkan agama secara keseluruhan, Tetapi ummatku pada akhir zaman nanti, jika mereka rela meluangkan waktunya sepersepuluh saja untuk agama Allah, maka nusratullah akan segera turun."(HR.Tirmizdi)
Jibril pernah bertanya kepada Nabi SAW, mana yang lebih mulia Engkau atau Aku. Nabi SAW menjawab, Aku, karena engkau dicibtakan untuk aku. Mana yang lebih mulia Engkau atau Agama. Nabi SAW menjawab, tentulah agama lebih mulia dibandingkan aku, karena aku dihantar untuk menyempurnakan agama.
Jadi Nabi SAW dihantar untuk menyempurnakan agama. Bukan hanya agama islam yang sekarang, tetapi agama-agama yang terdahulu pun disempurnakan oleh Nabi SAW. Makanya, andaikan Nabi Musa as hidup dizaman kita ini dia pun harus ikut kepada syariat yang ada sekarang.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maa'idah 3). Inilah Ayat yang terakhir kali turun. Waktu haji Wada’. Nabi SAW telah bagi bayan hidayah dan sekaligus bayan yang terakhir kalinya dihadapan para sahabat. Dizaman Nabi SAW Cuma satu kali saja di adakan ijitima’ tetapi ijima’nya berhasil semua yang hadir dalam ijitima’ itu keluar dijalan Allah.
Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: "Agama kita telah sempurna. Agama kita telah sempuma."
Abu Bakar ra. mendengar keterangan Nabi SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam.
Kisah tentang Abu Bakar r.a. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Sepatutnya kamu berasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata: "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ianya menunjukkan perpisahan kila dengan Nabi SAW, Hasan dan Husin menjadi yatim dan para istri Nabi menjadi janda."
Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sedarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus beritahu Nabi SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat: "Ya Rasulullah, kami baru bailk dari rumah Abu Bakar ra. dan kami mendapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di hadapan rumah beliau." Apabila Nabi SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Nabi SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.
Setelah Nabi SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Nabi SAW melihat mereka semua menangis dan bertanya: "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata: "Ya Rasulullah, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Nabi SAW berkata: "Semua yang dikata oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya masa untuk aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat."
Setelah mendengar pengakuan Nabi SAW maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan, sementara Ali ra. pula mengeletar seluruh tubuhnya. Dan para sahabat yang lain menangis dengan sekuat-kuat yang mereka mampu. Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua malaikat yang dilangit, cacing-cacing dan semua binatang baik yang di darat mau pun yang di laut turut menangis.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang paling sempurna.
Al Qur’an adalah kitab yang paling sempurna.
Islam adalah agama yang paling sempurna.
Ummatnya pun ummat yang paling sempurna.
Nabi Ibrahim as meminta menjadi ummat akhir zaman, tetapi tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Nabi Musa as meminta menjadi ummat akhir zaman, tetapi tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Nabi Isa as meminta menjadi ummat akhir zaman, hanya Nabi Isalah yang dikabulkan oleh Allah SWT menjadi ummat akhir zaman.
Mengapa meraka mau menanggalkan titel kenabiannya untuk menjadi ummat akhir zaman. Karena ketinggian derajat ummat akhir zaman ini memang tinggi disisi Allah SWT. Nabi terdahulu dihantar hanya untuk satu kaum saja. Tetapi ummat akhir zaman dihantar untuk seluruh manusia.
Kalaulah presiden tahu kemulian ummat akhir zaman maka dia pun akan rela menanggalkan titel kepresidenannya. Raja pun akan menanggalkan titelnya.
TETAPI KARENA KEBODOHAN KITA
KITA TIDAK TAHU TENTANG KEMULIA INI
Kapan kita akan mulia … ???
Kalau kita sudah ambil kerja kenabian
Sunan Kalijogo berkata,
Yen kali ilang kedunge, Yen pasar ilang kumandange, Yen wong wadon ilang wirange. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi.
Bermujahadah, susah payah berkelana dalam perjalanan ruhani guna memperbaiki diri atau perjalanan fisabilillah menjelajahi desa-desa/ negara-negara, menghitung pintu (bersilaturahim) jangan pulang-pulang sebelum selesai program 4 (empat) bulan, cari petunjuk, hidayah dan kepahaman agama dari Dzat yang Maha Kuasa.